Dec
Fri
26
Admin

“Malam ini aku ingin dada ibuku!” katanya mendorong dadaku.

Ah, padahal aku hanya ingin memeluknya, meredakan kegelisahan di hatinya. Fran, bocah lelaki empat belas tahun ini seperti tak bisa mengerti, bahwa ibunya tak bisa selalu ada untuknya.

“Malam ini Ibu pulang pagi lagi…” bisiknya lirih, sarat gundah di matanya.

“Ibumu melakukan semua itu juga untukmu, Fran.”

“Tapi apa harus menjadi pelacur? Ibu ‘kan bisa jadi apa saja selain pelacur. Aku ingat, Ibu bisa nyetir mobil dengan hebat. Ibu juga pintar masak. Ibu bisa jadi penyanyi, pelukis, Ibu bisa jadi apa saja dan tidak harus jadi pelacur seperti ini!”

“Ya, ibumu perempuan yang hebat.”

“Dan kamu? Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu mencintai ibuku, heh?”

“Eh, aku…?”

Read the rest of this entry »

Nov
Sun
23
Admin

Pagi-pagi buta aku sudah terbangun oleh dering handphoneku yang senada ketika ia berputar bergesekan dengan meja. Sungguh mengesalkan terbangun seperti itu. Aku berusaha tidak mengubrisnya tapi percuma. Telepon itu dari Sinta. Dan kalau tidak aku angkat, maka mampuslah aku. Jadi aku angkat telepon itu, dengan benar-benar enggan.
“Halo?”
“Banguun, Say. Kau tidak lupa janji kita, kan?” kata Sinta, bertepatan dengan saat aku mengeluarkan uap panjangku.
“Apa? Oh, iya. Tentu saja. Aku, err..dalam perjalanan kesana.” Bohong.
“Bohong. Aku dengar tadi kau menguap. Sudah kamu di situ saja. Biar aku yang kesana.”

Sinta memutuskan hubungan. Sepertinya ia sedang berada di dalam bus. Sungguh berisik. Begitulah bus kota. Dan itulah kenapa aku lebih memilih naik sepeda. Kadang Sinta mewanti-wanti supaya aku mau sekali-kali naik bus. Katanya ia sulit melihatku belakangan ini. Tentu aku naik bus sekali-kali. Tapi tidak setiap kali. Banyak kejahatan terjadi di dalam bus. Dan kasus kecelakaan juga. Sepeda? Hampir tidak pernah.
Aku mengambil handukku dan 15 menit kemudian sudah berpakaian lengkap. Yaa, lebih lambat dari biasanya. Aku masih setengah tertidur. Semalam aku naik ranjang jam 3. Kerjaan betul-betul menumpuk dan satu-satunya hari liburku harus kuhabiskan bersama Sinta. Apa yang lebih buruk dari semua ini? Aku pikir, bisa-bisa aku pensiun dini. Read the rest of this entry »

Nov
Mon
10
Admin

Mula-mula tak ada seorang pun di rumah keluarga besar itu yang berterus terang. Masing-masing memendam pengalaman aneh yang dirasakannya dan curiga kepada yang lain. Masing-masing hanya bertanya dalam hati, “Bau apa ini?” Lalu keadaan itu meningkat menjadi bisik-bisik antar “kelompok” dalam keluarga besar itu. Kakek berbisik-bisik dengan nenek. “Kau mencium sesuatu, nek?”

“Ya. Bau aneh yang tak sedap!” jawab nenek.
“Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?”

“Mungkin anakmu.”
“Belum tentu; boleh jadi cucumu!”

“Atau salah seorang pembantu kita.”
Ayah berbisik-bisik dengan ibu. “Kau mencium sesuatu, Bu?”

“Ya. Bau aneh yang tak sedap!” jawab ibu.
“Siapa gerangan yang mengeluarkan bau aneh tak sedap ini?”

“Mungkin ibumu.”
“Belum tentu; boleh jadi menantumu.”
“Atau salah seorang pembantu kita.” Read the rest of this entry »

Nov
Thu
6
Admin

Dalam guyuran hujan deras pada 14 Juni 2005, umat Islam Indonesia kehilangan tokoh dakwah besar, yakni Ustadz Rahmat Abdullah. Pria asal Betawi yang wafat di usia 52 tahun ini mendapat gelar Syaikh at Tarbiyah dari Majalah Sabili (2001). Ustadz Rahmat terkenal dengan gaya hidup bersahaja. Meski menjabat petinggi dan salah satu pendiri sebuah partai Islam, lalu terpilih jadi anggota DPR RI periode 2004-2009, ia tidak segan naik kopaja kemana-mana. Sastra, adalah media yang sering ia gunakan untuk syiar Islam. Almarhum meninggalkan satu istri dan tujuh orang anak.

Tiga tahun kemudian, seorang sutradara muda bernama Zul Ardhia terinspirasi mengangkat kisah hidup Ustadz Rahmat melalui film “Sang Murobbi, Sebuah Spirit yang Hilang.” Perjuangannya berat, sebab berlandaskan idealisme, ia menolak dukungan rumah produksi mapan. Ambisinya, adalah membawa film dakwah berbentuk VCD/DVD ini ke layar lebar. Meski untuk itu, ia harus mengumpulkan 1 Miliar!

Sosoknya sederhana. Mengenakan celana panjang dan kemeja putih, Zul Ardhia datang sedikit agak telat dari waktu yang dijanjikan. Pria berkacamata ini langsung tersenyum ramah begitu mengenali Majalah Dian Al-Mahri. Tak lupa ia mengucap salam perkenalan dengan menangkupkan tangan di depan dada. Dahinya berkerenyit memandang ke sekeliling restoran. Memang suasananya sedang hingar bingar.

“Pindah ke tempat yang lebih tenang yuk,” ajaknya. Siang ini, ia akan memaparkan panjang lebar mengenai proses pembuatan film yang sedang digarapnya.

Mengapa Ustad Rahmat? Karena Sang Murobbi ini ceritanya sudah meninggal. Kita nggak mau orang yang masih hidup, takutnya jadi mengkultuskan seseorang. Kita mencoba untuk se-objektif mungkin.
Read the rest of this entry »

Nov
Wed
5
Admin

Cahaya bulan menerangi halaman belakang dan beranda sebuah rumah yang berada di tengah-tengah kerumunan rumah. Seorang pemuda keluar dari kamarnya sambil menenteng sebuah radio. Ia kemudian meletakkan radio di meja dan duduk di kursi yang tersedia di beranda. Dari sakunya keluar sepasang earphone yang ia pasang ke kuping dan plug-in ke radio tersebut. Tak lama kemudian ia sibuk memutar tombol radio untuk mencari frekuensi yang dicari.

Pemuda yang berusia tanggung ini masuk mencari dalam gelombang FM. Ia mendapati banyak sekali stasiun radio yang menyajikan lagu-lagu terkini. Ia bimbang untuk memilih salah satu dari stasiun radio tersebut karena ia sudah sering mendengar apa yang mereka setel. Lagunya itu-itu terus, yang selalu disetel oleh tetangganya keras-keras dan mengganggu ia belajar, yang dinyanyikan anak-anak kecil seingat mereka tanpa mengerti makna dari lirik lagu tersebut, dan yang selalu disenandungkan oleh teman-temannya diiringi petikan gitar, kapan saja suka-suka. Selain itu ia juga merasa bosan karena tren lagu-lagu baru cenderung bertempo santai, melodi monoton tidak ada yang tampil beda dan isi liriknya selalu tentang komplikasi cinta. Read the rest of this entry »

Nov
Mon
3
Admin

Pagi kembali menyambut, saat mentari masih bersembunyi malu di balik bukit tampak seorang gadis berambut panjang duduk di atas hijaunya padang rumput. Nama gadis itu adalah Reva, seorang gadis dengan seribu pesona yang ada padanya. Selain cantik Reva memiliki prestasi yang sangat membanggakan di sekolahnya. Dan satu hal lagi, Reva mempunyai suatu kegemaran yaitu memainkan biola. Di tengah segar udara pagi Reva dengan lembut memainkan biola di tangannya. Maka terdengarlah alunan merdu mengiringi kicau burung yang terbang dengan riangnya menyambut hari. Di saat Reva sedang asyik dengan biolanya, tiba-tiba terdengar seoarang lelaki memanggil namanya dari dalam rumah.

“Reva, dimana kamu?” teriak ayah Reva dari dalam rumah.

Mendengar panggilan itu Reva langsung menghentikan permainan biolanya dan menyembunyikannya di balik semak. Setelah menyembunyikan biola kesayangannya itu ia langsung berlari menuju rumah.

“Ya Ayah ! Reva disini,“ jawab Reva dengan nafas terengah – engah.

“Dari mana saja kamu, bukankah kau seharusnya sudah harus bersiap untuk ke sekolah?” tanya ayah Reva dengan tegas. Read the rest of this entry »

Oct
Sat
25
Admin

Kamis, November …

Aku bukanlah pelindung bagimu…

Namun setiap asa yang tercipta bukanlah tombak bagiku…

Aku tak pernah memaksamu untuk hinggap di sayapku..

Namun, aku akan menuntunmu sampai ke titik terang itu… Read the rest of this entry »

Oct
Fri
24
Admin

Sebelum tidur, lelaki berkaca mata itu memeriksa semua pintu dan jendela. Akhir-akhir ini sering terjadi pencurian, perampokan kadang disertai pemerkosaan, penganiayaan bahkan pembunuhan. Apalagi setelah kenaikan harga BBM, perekonomian semakin anjlok. Kriminalitas meningkat. Pengangguran korban PHK dan putus sekolah bertambah. Sebuah lingkaran setan yang tak bisa diurai mana ujung dan pangkalnya.

Surya Panen, lelaki itu mengusap keningnya yang berkeringat dingin. Belakangan ini ia sering dilanda ketakutan yang luar biasa ketika menjelang tidur. Ketakutan yang tak bisa dicari alasannya.

Berita di surat kabar, televisi, dan radio tentang kejahatan yang meningkat, menjadi obrolan yang menegangkan dengan teman sekerja di pangkalan ojek. Ketegangan itu terbawa pulang ke rumah. Mengikutinya seperti hantu. Akibatnya hubungan dengan istrinya pun jadi memburuk. Sering ia merasa was-was ketika meninggalkan istri dan rumahnya untuk bekerja. Ia takut rumahnya kerampokan atau istrinya diperkosa orang.

Ia mencurigai siapapun yang tak dikenalnya. Ia sangat waspada bahkan suara cicak pun bisa membuatnya mengacungkan golok yang selalu disanding di sebelah bantal. Ia memandang istri gemuknya yang pulas memeluk guling dengan getaran nafas yang terhambat lemak. Menimbulkan bunyi khas yang memenuhi kamar tidur. Ketika sang istri masih mendengkur. Panen memeriksa simpanan uang dalam peti kayu yang tersembunyi di balik lemari baju. Ia lega semuanya masih utuh lalu ia kembali tidur, diiringi dengkur istrinya yang menjadi musik pengantar tidur hingga esok kembali mengulang hari.

Rasa takut terbawa mimpi. Ia merasa didatangi lelaki bertampang seram, kumis tebal dan muka bopeng. Lelaki seram itu menampar kedua belah pipinya. Sakit. Pandangan menjadi biru ungu kelap-kelip kunang-kunang. Semua barang bawaan diminta paksa sambil memukuli sekujur tubuhnya.

“Tolooong…!” teriaknya.

Lalu ia terbangun dengan celingukan. Istrinya menertawakan dirinya. Ternyata tak ada apa-apa kecuali mentari yang mulai naik. Dan mengantarkan kehangatan melalui jendela kamar. Istrinya masih saja tertawa, saat itu wajah Panen yang sedang mengumpulkan kesadaran terlihat sangat lucu di mata wanita berdaster ukuran xl itu. Panen menceritakan mimpi buruknya. Sang istri hanya mengangkat alis, malas menanggapi.

“Oh…” begitu saja komentar perempuan itu. Mulutnya membetuk lingkaran dengan bibirnya yang tebal. Ia pun beranjak dari kamar meninggalkan Panen yang masih berbaring di kasur.

Nama Surya Panen diberikan Bapak dengan harapan dan doa kelak dapat menuai keberhasilan. Masa depan cerah, secerah hamparan kuning padi yang siap panen. Lelaki tua berambut perak, dengan tubuh bungkuk itu, masih saja setia melayani pelanggan di bengkel sepedanya yang tak jauh dari pangkalan ojek tempat Panen biasa ngetem.

Panen diam-diam sering mengamati wajah renta yang dipenuhi kerut lisut, dari tempatnya mangkal. Ia sedih, benih harapan yang ditanam dalam dirinya tak pernah bisa menjadi padi kesuksesan berbulir padat. Ia ingin bisa membahagiakan lelaki yang selalu tampak tekun berjongkok memperbaiki ban sepeda anak tetangga. Tapi nasib tak berpihak padanya

Sejak ia lahir, Bapak memperbaiki sepeda. Sekarang setelah ia dewasa, Bapak masih saja memperbaiki sepeda. Bengkel sepeda yang makin lama makin lusuh. Seperti seonggok kain tua. Yang hanya pantas untuk lap kompor. Bengkel yang makin mengkeriut tertelan kios, toko, warung makan disekitarnya. Bengkel Bapak tampak reot dis amping semua bangunan baru itu. Bengkel yang semakin tua seiring kerentaan bapak. Dan Panen tak bisa berbuat apa-apa selain hanya kelu memandang.

Setan was-was kembali datang, dengan gemuruh teriakan demonstran. Di tanduknya terikat sepotong kain merah bertuliskan ‘Turunkan BBM’. Menyetop seluruh angkutan umum dan mengajak semua orang untuk berjalan kaki membawa spanduk dan poster protes sambil meneriakan yel-yel heroik.

Panen menggigil mendengar derap demonstrasi itu. Kerumunan itu memekatkan matanya. di antara sorak sorai ’setuju’ dari massa yang entah menyepakati apa. Panen mendengar makian. Yang makin lama makin keras menggelombang, ‘Hancurkan, bakar, tembak!’ entah dari mana. Tiba-tiba semprotan air menampar wajahnya, mengabutkan pandangan. Panen terjebak dalam amukan masa yang membadai.

Batu-batu berterbangan. Bambu runcing menusuk-nusuk langit. Bom molotov melontarkan api. Kawat duri melilit-lilit aspal jalanan. Peluru karet berdesingan diantara asap yang mengepul dari bom asap dan ban yang dibakar. Langit menjadi merah hitam dan berbau hangus.

Panen merunduk. Tiarap di tanah. Ia takut jadi korban konyol dari kerusuhan ini. Batinnya sangat trauma dengan keberingasan yang biasanya hanya dilihat di televisi. Jantung Panen berhenti sesaat.

“Tidak! Ampun aku tak tahu apa-apa, bukan salahku…!Aaa…!”

Panen terpental dari bangku panjang di pos ojek. Jatuh ke tanah tak jauh dari motornya.

“Ha ha ha!” serentak tawa teman-temannya terdengar.

“Sadar! Siang-siang ngelindur!”

Panen merasa seperti jatuh ke negeri asing yang dipenuhi mahluk aneh yang menyeringai. Kesadaran pecah berantakan. Terpatah-patah dikumpulkan. Kalau saja tak ada Retno , janda kembang yang minta diantar ke pasar, mungkin ia masih terjebak dalam mimpi buruk siang bolongnya yang kering.

Panen membiarkan tubuh janda itu melendoti punggungnya, tangan mulus berjari lentik mendekap pinggang. Sedikit hiburan setelah tertekan mimpi menakutkan. Panen bersiul-siul membonceng sang janda, melewati seorang wanita gila berbaju rombeng, berambut kusut, yang berdiri di pinggir jalan. Wanita itu berteriak, “Kamu jahat! Kamu jahaat!” Wanita bernasib sial itu stress ditinggal kabur kekasih yang habis di PHK, karena pabrik tempat kerjanya tutup. Gara-gara kenaikan BBM.

Cerpen oleh RADIANI

Oct
Tue
21
Admin

Sore yang kering di tepian Mekong. Angin menyisir ilalang. Thailand tampak dalam jangkauan pandang. Di seberang sungai lebar yang panjangnya melintasi lima negara ini, aku duduk termenung. Aku tak bisa tersenyum dengan sesungguhnya. Hatiku mati rasa. Cinta lelaki itu telah membunuhnya. Menjadikanku zombie yang tak berperasaan.

Kau buang kemana hatiku, hai laki-laki pencuri? Setelah malam itu kau buka bungkus dadaku. Kau ambil isinya hingga habis tak tersisa. Lalu kau menghilang. Meninggalkanku dalam kenangan di tepian sungai Huangpu, Shanghai. Aku tak bisa hidup tanpa hati. Lidah ini jadi ikut mati rasa. Aku tak bisa merasakan rasa yang lain selain dirimu.

Mekong terbelah di tengah. Dasarnya yang kering tersembul. Hanya tepian yang dialiri air. Itupun hanya setinggi lutut. Ikan apa yang kau jaring Phoor? Dari tempatku duduk, tak kulihat apapun tersangkut dalam jaringmu. Padahal kau telah berjalan begitu jauh menyusuri sungai, menyeret jaring itu. Tidakkah hidup terasa sulit untukmu? Terpikirkankah olehmu untuk melarikan diri dari penderitaan. Seperti yang kulakukan saat ini?

“Sabai dee!” Seorang wanita muda mengucap salam khas Laos. Aku tersenyum saja. Di negeri ini kita harus hati-hati. Perdagangan narkoba dan seks begitu bebas. Aku tak mau perjalananku ini berakhir di penjara.
Read the rest of this entry »

Oct
Sun
19
Admin

Mei ni, gadis cantik, kutunggu kau di bawah lambaian dedaunan pohon Yang Liau. Yang bergoyang lembut mengikuti irama angin, di tepian sungai Huangpu . Apakah kau mengerti tentang ini? Tentang rasa yang tak tersampaikan, walau setiap hari kita bertemu.

“A Xing! Lihat aku menemukan burung ini!” A Lien, gadis cantik itu membawa seekor burung kecil yang terluka dalam keranjang rumput, bekas bungkus kepiting bulu. Sup kepiting bulu adalah masakan yang paling disuka ayah A Lien. Apakah ada sesuatu yang dirayakan keluarga itu hari ini? Sebab kepiting bulu mahal sekali, bila tak ada acara yang penting, tak mungkin kepiting bulu masuk dalam menu makan malam.

“Kau kelihatan gembira, ada apa? Kau berulang tahun?” tanyaku.

“Tidak! Lihatlah burung ini, kasihan sekali ya.”

“Burung apa?”

“Pu Ke.”

“Liau Ke.”

“Aku menemukannya tergeletak tak jauh dari kerbau- kerbau di ladang. Ini pasti burung Pu. Bukankah burung itu selalu naik di atas punggung kerbau.”

“Aku benci burung Pu. Burung yang malas. Tidak mau jalan sendiri. Kemana-mana menumpang punggung kerbau. Makan pun tergantung kerbau. Dia cuma menangkap lalat yang hinggap di pantat kerbau. Makhluk yang bisanya memanfaatkan makhluk lain!”

”Hei! Burung ini terluka, kenapa kau malah marah!” A Lien gusar.

“Itu bukan burung Pu, itu burung Liau! Burung Pu lebih besar dan berwarna abu-abu. Burung mungil berwarna biru ini, burung Liau. Lidahnya pasti terluka,” jelasku tegas.

“Bagaimana kau tahu ?” Mata sipit itu berkedip. Ah, kau memang menggemaskan A Lien.

”Legenda itu penyebabnya, burung ini pasti tadi ditangkap anak-anak dan dijadikan bahan permainan. Mereka pasti ingin membuktikan legenda itu.”

“Ceritakan padaku A Xing,” A Lien meminta dengan manis

“Liau ke dulunya seorang putri yang cantik. Ia jatuh cinta pada seorang pegawai istana berkasta rendah, tentu saja pada jaman itu hal tersebut sangat terlarang. Percintaan mereka pun menjadi kisah cinta terlarang.”

“Kasihan sekali, untung aku tak mengalaminya. Aku dijodohkan dengan A Lung, kami sederajat. Ayah sangat berhati-hati dalam memilihkanku calon suami. Nanti malam keluarganya akan datang melamarku.” Jadi untuk acara itulah kepiting bulu itu dihidangkan. Aku sekarang mengerti.

“Apa kau mencintai A Lung?” tanyaku langsung ke matanya. A Lien gagap menerima tatapku. Dia tercenung sesaat, lalu membuang mukanya.

“Entahlah aku belum mengerti. Aku masih ingin bermain di tepi sungai ini bersamamu, melihat kerbau, burung, dan memancing He Fen.”

“Kau suka sekali ikan beracun itu ya! Besok aku akan beli di pasar, dan memasaknya untukmu.”

“Ha ha ha! He Fen sungai lebih enak daripada He Fen pasar! Lanjutkan ceritamu.”

“Percintaan terlarang mendatangkan kutukan. Itu terjadi ketika Liau menolak dijodohkan dengan seorang pangeran. Bukan karena ia tidak tampan. Masalahnya ada janin yang tertanam dalam kandungan.”

“Anak dari pegawai berkasta rendah itu ya. Ah, kasihan sekali, cinta yang sulit. Pasti dipenuhi uraian air mata.”

“Dan banyak pengorbanan tentunya!” Seperti apa yang telah terjadi padaku. Aku banyak berkorban perasaan, hanya untuk bisa selalu dekat denganmu, tapi apakah kau mengerti tentang itu A Lien?

“Ya itu pasti.”

“Kaisar mengutuk putri Liau menjadi seekor burung. Dengan hati yang sedih Liau terbang keluar istana mencari kekasihnya untuk mengabarkan keadaanya. Tapi sayang sang kekasih tak dapat mengerti kata-kata Liau, karena Liau hanya bisa mencicit saja.”

“Lalu?”

“Liau pergi ke kuil di puncak gunung. Ia memohon pada dewa-dewa agar ia bisa bicara dengan bahasa manusia pada kekasihnya, untuk yang terakhir kali.”

“Kenapa Liau tak memohon untuk menjadi manusia kembali, jadi ia bisa bersama kekasihnya kembali?” Sebuah pertanyaan polos terlontar dari bibir mungil itu.

“Mmmm, Entahlah mungkin Liau sangat bingung. Jadi dia tak bisa berpikir hal lain. Lagi pula bila ia kembali jadi manusia, Apakah kaisar akan meloloskannya begitu saja? Ia pasti dikutuk lagi, menjadi katak mungkin.”

“Ha ha ha!”

“Dewa mengabulkan permohonannya, tapi dengan syarat berat. Kau pasti akan menangis bila mengetahuinya. Mungkin lebih baik tak kuceritakan saja ya?”

“Aaaah! A Xing jahat sekali! Jangan bikin penasaran nanti aku tak bisa tidur!”

”Ha ha ha! Baiklah, Liau harus memotong lidahnya, lalu dibakar dengan api dari puncak gunung.”

”Syarat yang berat. Bagaimana mungkin dengan sayap mungil ini bisa terbang ke puncak gunung. Sambil menahan sakit lidah yang terpotong.”

”Itulah perjuangan Liau. Sayang ia tak pernah sampai ke puncak gunung. Ia mati di tangan anak-anak. Seperti Liau Ke yang ada di tanganmu itu.”

”Ah sangat mengharukan. Selamanya Putri Liau tak pernah dapat menyampaikan perasaannya. Liau Ke ini juga akan matikah?”

”Tentu, tanpa lidah ia tak bisa makan, ia akan mati kelaparan.”

”Akan kubawa ia pulang. Biarlah ia mati dengan nyaman di rumah. Daripada mati di kerubung semut di ladang.” A Lien membungkus burung itu dengan sapu tangannya.

Kupandangi wajah A Lien. Mungkin ini untuk terakhir kalinya. Dia akan segera menikah dengan A Lung. Aku tak akan bisa memandangnya dengan bebas seperti ini lagi. Seorang pelayan sepertiku tak mungkin bisa mendapatkan anak bangsawan seperti A lien. Lagipula percintaan antara majikan dan pelayan adalah terlarang. Bukankah tugasku hanya melayani A Lien dengan penuh pengabdian dan kesetiaan. Bukan melayaninya dengan cinta. Aku sangat tahu diri dalam hal ini.

Legenda Liau Ke itu sebenarnya tak pernah ada. Aku mengarang cerita itu hanya untuk menggambarkan perasaanku pada A Lien. Tentang rasa cinta yang tak pernah bisa tersampaikan ini. Tapi apakah kau bisa mengerti A Lien? Haruskah kupotong lidahku?

Zhang jia gang, Shanghai, 051207.
Cerpen Oleh RADIANI